Hadis dan Politik (Analisis tematik mengenai Risywah dan Hadiyah)

{Bagian Pertama}

Akar Permasalahan

Risywah dan Hadiah

 

Riswah merupakan kejahatan publik (jarimatul ‘amah) yang telah membudaya dan biasa di negeri kita. Membudaya karena menjadi suatu hal yang biasa di banyak lini kehidupan masyarakat dari kelas pejabat sampai kelas rakyat. Selain itu risywah dianggap lumrah karena banyak orang yang melakukukannya.

Saat ini banyak orang yang tidak peduli melakukan risywah dalam transaksi, pekerjaan, bahkan dalam hukum demi kepentingan pribadi atau kelompok. Mereka berasumsi hal tersebut sah-sah saja bahkan dianggap sebagai rezeki yang halal untuk dinikmati. Mafia di negeri ini bisa kebal hukum karena uang suap yang menyumpal mulut para hakim yang doyan memakan harta haram. Bahkan, budaya KKN di negeri ini menjadi subur karena ditopang dengan budaya suap-menyuap / risywah yang telah mengakar kuat.

Media massa baik cetak maupun elektronik telah banyak memberitakan para koruptor yang main suap. Bukan hanya kaum laki-laki, kaum wanitapun tidak ketinggalan melakukan suap-menyuap demi perampokan harta rakyat secara terselubung. Fenomena risywah di negeri kita ibarat gunung salju ditengah lautan. Dari atas permukaan laut terlihat seperti gundukan kecil, namun di balik air ada bongkahan besar yang menghambat setiap kapal yang berlayar melewatinya.

Maka dari itu jangan heran kalau sistem birokrasi di negeri ini carut-marut bagaikan benang kusut. Faktor terbesar yang menyebabkab hal tersebut adalah budaya risywah dalam birokrasi yang seringkali didalangi oleh para oknum saja. Disisi lain, risywah seringkali dipahami sebagai hadiah atas wujud apresiasi kedekatan dan kecintaan yang obyektif. Namun, seringkali orang melakukan risywah dengan dalih memberikan hadiah. Bahkan, hari ini marak dengan hadiah kepada pegawai, khususnya pegawai pemerintah, atau gratifikasi. Pemberian hadiah ini meliputi pemberian uang, barang rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Dalam dunia Pendidikan fenomena risywahbisa terjadi antara dosen dengan mahasiswa terutama berkaitan dengan perolehan nilai dan kelulusan.

Jadi, seringkali orang tidak faham dan tidak bisa membedakan antara risywah dengan hadiah. Memang inilah salah satu tipu daya setan yang sangat jitu. Mereka mengubah nama sesuatu yang haram dengan nama yang terkesan indah seperti risywah diganti hadiah atau parcel, riba diganti dengan bunga, penzina diganti dengan Pekerja Seks Komersial dan lainlain. Akhirnya, budaya risywah merebak karena pelakunya berdalih memberikan hadiah. Oleh karena itu, hendaknya berhati-hati (wara’) dalam menerima hadiah terutama bagi para hakim, pejabat atau siapa saja yang memiliki kebijakan dalam sebuah instansi atau lembaga.

 

 

{Bagian Kedua}

Penjelasan

Risywah dan Hadiah Menurut Hadis

 

Definisi Rsiywah dan Hadiah

Risywah secara etimologi terambil dari kata رشا yang artinya ialah menunjukkan sebab sesuatu menjadikan ia ringan dan lunak, risywah artinya tali (al-habl) yang dibentangkan untuk menimba air di sumur. Dari makna ini dapat dikatakan bahwa dengan adanya pemberian sesuatu kepada orang lain diharapkan dapat memudahkan urusannya atau dengan adanya tali maka air akan mudah ditimba sehinga sampai kepada maksud yang dituju.

Sedangkan secara terminology risywah berarti pemberian yang diberikan seseorang kepada hakim atau lainnya untuk memenangkan perkara dengan cara yang tidak dibenarkan atau untuk memperoleh kedudukan.

Hadiah berasal dari bahasa arab yaitu هدي maknanya berkisar pada dua maksud, yaitu: tampil memberi petunjuk (التقديم للإرشاد) dan memberikan dengan lemah lembut (بَعثة لَطَفٍ ).[1] Dari akar kata yang sama, terdapat kata hadiyah, artinya memberikan dengan lemah lembut guna menunjukkan simpati.

Risywah juga dipahami oleh ulama sebagai pemberian sesuatu yang menjadi alat bujukan untuk mencapai tujuan tertentu, Adapun menurut MUI suap (risywah) adalah pemberian yang diberikan oleh seorang kepada orang lain (pejabat) dengan maksud meluluskan suatu perbuatan yang batil (tidak benar menurut syariah) atau membatilkan perbuatan yang hak.

 

Korelasi makna risywah secara etimologi dan terminologi

Jika kita telaah lebih dalam tentang makna risywah secara bahasa dan istilah, maka kita dapati korelasi antara kedua makna tersebut. Pada dasarnya asal penggunaan kata adalah sesuai dengan makna bahasa kemudian berkembang dalam kehidupan keseharian. Secara bahasa asal kata risywah yang pertama adalah “Anak burung yang menjulurkan kepalanya ke dalam paruh induknya seraya meminta agar makanan yang berada dalam paruh induknya disuapkan untuknya.” Hal ini merupakan gambaran nyata bagi orang yang menerima suap. Ia ibarat seekor anak burung yang kecil dan lemah serta tidak mampu mencari sesuap makanan sendiri kecuali harus disuapi oleh induknya. Seandainya orang yang melakukan suap tahu bahwa apa yang dikeluarkan dari paruh tersebut ibarat muntahan tentunya dia akan merasa jijik. Jadi, adakah yang lebih lemah jiwanya dari seseorang yang menerima suap berupa muntahan dari kantong saudaranya yang sebenarnya tidak halal baginya?

 

 

Dalil Hadis tentang Hadiah dan Ryswah

Hadis Pertama

No. Hadis: 1255

Sumber: Tirmidzi | Kitab: Hukum-hukum Bab: Hadiah untuk penguasa, pejabat

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ يَزِيدَ الْأَوْدِيِّ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُبَيْلٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْيَمَنِ فَلَمَّا سِرْتُ أَرْسَلَ فِي أَثَرِي فَرُدِدْتُ فَقَالَ أَتَدْرِي لِمَ بَعَثْتُ إِلَيْكَ لَا تُصِيبَنَّ شَيْئًا بِغَيْرِ إِذْنِي فَإِنَّهُ غُلُولٌ { وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ } لِهَذَا دَعَوْتُكَ فَامْضِ لِعَمَلِكَ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَدِيِّ بْنِ عَمِيرَةَ وَبُرَيْدَةَ وَالْمُسْتَوْرِدِ بْنِ شَدَّادٍ وَأَبِي حُمَيْدٍ وَابْنِ عُمَرَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ مُعَاذٍ حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ عَنْ دَاوُدَ الْأَوْدِيِّ

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Daud bin Yazid Al Audi dari Al Mughirah bin Syubail dari Qais bin Abu Hazim dari Mu’adz bin Jabal ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku ke Yaman, tatkala aku sudah berjalan beliau mengutus seseorang di belakangku lalu aku kembali menghadap beliau. Beliau bertanya: “Tahukah engkau untuk apa aku mengutus seseorang memanggilmu? Janganlah engkau mengambil sesuatu tanpa seizinku karena hal itu merupakan bentuk khianat dalam urusan rampasan perang dan (Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu). Karena inilah aku memanggilmu, pergilah untuk melakukan tugasmu.” Ia berkata: Dalam hal ini ada hadis serupa dari ‘Adi bin ‘Amirah, Buraidah, Al Mustaurid bin Syaddad, Abu Humaid dan Ibnu Umar. Abu Isa berkata: Hadis Mu’adz adalah hadis gharib (diriwayatkan oleh segelintir perawi pada setiap tingkatannya), tidak kami ketahui kecuali melalui jalur ini dari hadis Abu Utsamah dari Dawud Al Audi.[2]

Hadis Kedua

No. Hadis: 1501

Sumber: Tirmidzi | Kitab: Ekspedisi Bab: Menerima hadiah orang musyrik

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ سَعِيدٍ الْكِنْدِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ ثُوَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ كِسْرَى أَهْدَى لَهُ فَقَبِلَ وَأَنَّ الْمُلُوكَ أَهْدَوْا إِلَيْهِ فَقَبِلَ مِنْهُمْ وَفِي الْبَاب عَنْ جَابِرٍ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَثُوَيْرُ بْنُ أَبِي فَاخِتَةَ اسْمُهُ سَعِيدُ بْنُ عِلَاقَةَ وَثُوَيْرٌ يُكْنَى أَبَا جَهْمٍ

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Sa’id Al Kindi berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahim bin Sulaiman dari Isra’il dari Tsuwair dari Bapaknya dari Ali berkata, “Raja Kisra memberikan hadiyah kepada beliau lalu beliau menerimanya, dan Raja-raja juga memberikan hadiyah kepada beliau lalu beliau menerimanya.” Dalam bab ini ada serupa hadis dari Jabir, dan hadis ini derajatnya hasan gharib (dhaif sanad tapi matanya relevan). Tsuwair bin Abi Fakhitah nama aslinya adalah Sa’id bin Ilaqah, dan julukan Tsuwair adalah Abu Jahm.[3]

Penjelasan pertama

Dalil hadis di atas mengandung ketegasan akan haramnya hadiyah yang lebih mengerucut dikatakan risywah, baik bagi penerima maupun pemberi, bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa bagi orang yang menjadi perantara juga dilaknat apa lagi hadiyah dari orang musyrik. Oleh sebab itu, dapat dikatakan hampir tidak ada pengkhususan pada aspek tertentu, apakah suap itu bertujuan menegakkan kebenaran, mencegah kezhaliman, ataukah untuk mengekspolitasi kebanaran, memperoleh posisi jabatan dan lain sebagainya. Di lain pihak adanya kebolehan melakukan praktek suap dalam kondisi dan situasi tertentu, seperti suap dibolehkan untuk menegakkan kebenaran dan mencegah kezahaliman. Pada situasi tertentu ada kalanya orang tidak mendapatkan hak-haknya, akhirnya ia berusaha mencari jalan untuk mendapatkan hak tersebut dengan terpaksa melakukan suap.

 

Penjelasan kedua

Dari sudut pandang yang berbeda bahwa hadiah itu sendiri dalam kutipan hadis yang lain di perbolehkan, yaitu:

Hadis Pertama

No. Hadis: 2386

 Sumber: Bukhari | Kitab: Hibah, keutamaannya dan anjuran melakukannya Bab: Menerima hadiah

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا عَبْدَةُ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَتَحَرَّوْنَ بِهَدَايَاهُمْ يَوْمَ عَائِشَةَ يَبْتَغُونَ بِهَا أَوْ يَبْتَغُونَ بِذَلِكَ مَرْضَاةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah menceritakan kepada kami ‘Abdah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa orang-orang memilih barang yang terbaik sebagai hadiah dari mereka untuk hari pernikahan ‘Aisyah dengan tujuan mengharap ridha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.[4]

Hadis Kedua

No. Hadis: 2387

Sumber: Bukhari| Kitab: Hibah, keutamaannya dan anjuran melakukannya Bab: Menerima hadiah

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ إِيَاسٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَهْدَتْ أُمُّ حُفَيْدٍ خَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقِطًا وَسَمْنًا وَأَضُبًّا فَأَكَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْأَقِطِ وَالسَّمْنِ وَتَرَكَ الضَّبَّ تَقَذُّرًا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَأُكِلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ كَانَ حَرَامًا مَا أُكِلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Iyas berkata, aku mendengar Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: “Ummu Hufaid, bibi dari Ibnu ‘Abbas menghadiahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keju, minyak samin dan daging biawak. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakan keju dan minyak samin tapi membiarkan daging biawak karena tidak menyukainya”. Ibnu ‘Abbas berkata: “Semua itu dihidangkan pada makanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seandainya diharamkan tentu tidak akan dihidangkan pada makanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “.[5]

 

Perbedaan Risywah dan hadiah

Mengenai perbedaan risywah dan hadiah, bahwa risywah itu diberikan setelah permintaan dikabulkan, sementara hadiyah diberikan sebelumnya. Pendangan ini memberikan gambaran bahwa hadiah diberikan karena ada maksud tertentu, “ada udang di balik batu”, walaupun keinginan tidak disebutkan secara blak-blakan, pandangan ini juga mempunyai sisi kelemahan sebab tidak semua risywah itu diberikan setelah perjanjian, demikian juga dengan hadiyah.

dalam hadisnya yaitu:

No. Hadis: 1028

Sumber: Malik | Kitab: Thalak Bab: Khiyar

حدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ فِي بَرِيرَةَ ثَلَاثُ سُنَنٍ فَكَانَتْ إِحْدَى السُّنَنِ الثَّلَاثِ أَنَّهَا أُعْتِقَتْ فَخُيِّرَتْ فِي زَوْجِهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ وَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْبُرْمَةُ تَفُورُ بِلَحْمٍ فَقُرِّبَ إِلَيْهِ خُبْزٌ وَأُدْمٌ مِنْ أُدْمِ الْبَيْتِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ أَرَ بُرْمَةً فِيهَا لَحْمٌ فَقَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَكِنْ ذَلِكَ لَحْمٌ تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ وَأَنْتَ لَا تَأْكُلُ الصَّدَقَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَهُوَ لَنَا هَدِيَّةٌ

Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Rabi’ah bin Abu Abdurrahman dari Al Qasim bin Muhammad dari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata; “Ada tiga pelajaran yang berkenaan dengan Barirah, salah satunya ialah ketika dimerdekakan dia diberi pilihan atas suaminya padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Hak perwalian ada pada orang yang memerdekakan’. Suatu kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya, dan saat itu ada panci dari batu sedang mendidih berisi daging, tetapi beliau hanya dihidangi roti beserta lauk pauknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Bukankah panci tadi berisi daging?” Mereka menjawab: ‘Benar wahai Rasulullah, tapi daging itu adalah daging yang disedekahkan kepada Barirah, sedangkan anda tidak boleh memakan sedekah? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bagi Barirah daging itu berstatus sedekah, tapi bagi kita itu adalah hadiah.”[6]

Dari hadis tersebut tergambar bahwa hadiah pada hakikatnya adalah rezeki yang tidak boleh ditolak, di mana ia merupakan pemberian yang murni dari seseorang. Namun permasalahan ini menimbulkan polemik baru ketika dikaitkan dengan hadis lain, di antaranya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ الْأَزْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ الْأُتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي قَالَ فَهَلَّا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ بَيْتِ أُمِّهِ فَيَنْظُرَ يُهْدَى لَهُ أَمْ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْهُ شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إِبْطَيْهِ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ثَلَاثًا

Humaid al-Sa’idiy berkata: bahwa Nabi SAW mengutus seorang laki-laki, yakni Ibn al-Utbiyyah, untuk memungut zakat di kabilah Asad, ketika sampai di hadapan rasul ia berkata: “ini untuk kalian dan ini untukku sebagai hadiah”. Mendengar hal itu Nabi bersabda: “mengapa ia tidak duduk saja di rumah bapak atau rumah ibunya, maka ia dapat melihat apakah ia akan diberi hadiah atau tidak, demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya: tidak seorangpun di antara kalian yang mengambil sesuatu (tampa alasan yang benar) kecuali pada hari kiamat ia akan menggendong unta yang meringkik, sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembek”: kemudia Nabi SAW mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat ketiaknya, seraya berdoa:”Ya Allah bukankah aku sudah menyempaikan kepada meraka”,  sampai tiga kali.[7]

Intinya Rasulullah sangat mengecam amil zakat yang mengambil hadiah dari zakat yang dipungutnya. Jika tidak karena jabatannya tentu ia tidak akan menerima hadiah, Rasulullah melarang pejabat menerima sesuatu yang berkedok hadiah, sekalipun itu merupakan pemberian yang murni dari seseorang.

Hadis ini di letakkan Imam Bukhari dalam bab man lam yaqbil al-hadiah liy ‘illah (tidak menerima hadiah karena ada sebab tertentu). Sebelum menguraikan dua hadis yang terdapat di dalam bab ini beliau menukil perkataan Umar Ibn Abd al-‘Azîz yakni:

قَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ كَانَتْ الْهَدِيَّةُ فِي زَمَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةً وَالْيَوْمَ رِشْوَةٌ

Umar Ibn Abdu al-‘Azîz berkata: “Hadiah di zaman rasullullah adalah risywah di masa ini.

Dalam sebuah riwayat diceritakan dari Farât ibn Muslim bahwa Umar Ibn Abd al-‘Azîz sangat menginginkan apel, lalu ia pergi untuk membelinya bersama Ibn Muslim. Dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang anak yang membawa piring berisi apel seraya menyuguhkan padanya. Umar mencium apel tersebut lantas menolaknya. Anak itu berkata aku tidak punyai maksud apa-apa, bukankah Nabi SAW, Abu Bakar, dan Umar menerima hadiah? ia menjawab: bagi mereka adalah hadiah, tapi bagi al-ummâl (pegawai pemerintah) setelah mereka adalah risywah.[8] Pernyataan ini senada dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:

حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ أَبُو طَالِبٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ عَبْدِ الْوَارِثِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ

Dari Buraidah Ibn al-Husib Ibn ‘Abdillah Ibn al-Hârits, Nabi SAW bersabda:” siapa yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (jabatan) dan ia kami beri rizki (gaji), maka apa yang diambilnya selain itu merupakan kecurangan (penghianatan).[9] Dalam hadis di atas nampak titik terang bahwa yang dimaksud oleh Umar risywah itu ialah hadiah yang diberikan kepada pejabat negara. Dalam kasus ini maka hadiah yang diberikan kepada pejabat sama halnya dengan ghulul atau penghianatan (menyalahgunakan jabatan) dan di sinilah letak keharaman hadiah bagi pejabat pemerintahan. Hadis ini tidak seperti hadis sebelumnya, di mana hadis sebelumnya langsung menunjuk pada hadiah yang diberikan kepada pejabat. Secara tidak langsung selain gaji, terdapat in come lain yang bisa dihasilkan oleh pejabat, seperti hadiah atau risywah dan sebagainya. Oleh sebab itu, atas dasar hadis di atas maka dapat dikatakan bahwa hadiah dan risywah dilarang bagi pejabat negara. Umar Ibn Kathtthâb pernah menulis surat kepada pegawainya,

إياكو والهدايا فإنها من الرشا

Jauhilah segala macam hadiah karena sesungguhnya hadiah itu termasuk risywah.[10] Selain pejabat negara, hakim juga dilarang mengambil hadiah dalam riwayat munqathi’ yang dikeluarkan oleh al-Nasa’iy disebutkan:

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا خَلَفٌ يَعْنِي ابْنَ خَلِيفَةَ عَنْ مَنْصُورِ بْنِ زَاذَانَ عَنْ الْحَكَمِ بْنِ عُتَيْبَةَ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ الْقَاضِي إِذَا أَكَلَ الْهَدِيَّةَ فَقَدْ أَكَلَ السُّحْتَ وَإِذَا قَبِلَ الرِّشْوَةَ بَلَغَتْ بِهِ الْكُفْرَ.

Masyruk berkata: Hakim apabila mengambil hadiah sungguh ia telah mengambil yang haram, dan apabila menerima risywah maka ia menjadi kafur.[11]

 

{Bagian Ketiga}

Pandangan Hukum Islam Berdasarkan

Pranata Sosial Politik Indonesia mengenai Risywah dan Hadiah

 

Macam-Macam Bentuk Risywah

Risywah memiliki banyak macam sebagaimana dijelaskan para ulama seperti Ibnu Abidin ia mengemukakan empat macam

bentuk risywah, yaitu:

  • Risywah yang haram atas orang yang mengambil dan yang memberikannya, yaitu risywah untuk mendapatkan keuntungan dalam peradilan dan pemerintahan.
  • Risywah terhadap hakim agar dia memutuskan perkara, sekalipun keputusannya benar, karena dia mesti melakukan hal itu. (haram bagi yang memberi dan menerima)
  • Risywah untuk meluruskan suatu perkara dengan meminta penguasa menolak kemudaratan dan mengambil manfaat. Risywah ini haram bagi yang mengambilnya saja. Sebagai helah risywah ini dapat dianggap upah bagi orang yang berurusan dengan pemerintah. Pemberian tersebut digunakan untuk urusan seseorang, lalu dibagi-bagikan. Hal ini halal dari dua sisi seperti hadiah untuk menyenangkan orang. Akan tetapi dari satu sisi haram, karena substansinya adalah kezhaliman. Oleh karena itu haram bagi yang mengambil saja, yaitu sebagai hadiah untuk menahan kezhaliman dan sebagai upah dalam menyelesaikan perkara apabila disyaratkan. Namun, bila tidak disyaratkan, sedangkan seseorang yakin bahwa pemberian itu adalah hadiah yang diberikan kepada penguasa, maka menurut ulama Hanafiyah tidak apa-apa (la ba`sa). Kalau seseorang melaksanakan tugasnya tanpa disyaratkan, dan tidak pula karena ketamakannya, maka memberikan hadiah kepadanya adalah halal, namun makruh sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Mas‟ud rdh.
  • Risywah untuk menolak ancaman atas diri atau harta, boleh bagi yang memberikan dan haram bagi orang yang mengambil. Hal ini boleh dilakukan karena menolak kemudaratan dari orang muslim adalah wajib, namun tidak boleh mengambil harta untuk melakukan yang wajib.

 

Faktor-Faktor Pendorong Risywah

Banyak sekali factor pendorong terjadinya risywah diantaranya sebagai berikut,

  • Dha‟ful iman/lemahnya iman. Risywah sangat erat berhubungan dengan mentalitas iman yang rendah. Praktek suapsejatinya merupakan refleksi dari lemahnya keimanan dalam diri seseorang. Tidak mungkin orang yang imannya kuat menempuh jalan risywah karena hal tersebut suatu pelanggaran syariat yang akan berimplikasi pada siksa di akhirat.
  • Adamu al muraqabatillah/tidak merasa di awasi oleh Allah SWT. Orang yang melakukan risywah tidak merasa bahwa perbuatannya diawasi oleh Allah SWT. Dia tidak merasa bahwa Allah SWT memiliki malaikat yang mencatat amal setiap hamba. Seandainya dia bias aman dan lepas dari pengawasan manusia dan pengadilannya. Maka tidak akan mungkin lepas dari pengadilan dan pengawasan Allah.
  • Tamak dan Serakah. Suap-menyuap merupakan gambaran keserakahan manusia. Sikap tersebut merupakan bentuk ketidak qana‟ahan dengan apa yang ditaqdirkan oleh Allah atas dirinya. Seolah orang yang melakukan risywah tidak percaya bahwa Allah SWT adalah penentu segala sesuatu. Seandainya ia melakukan risywah namun Allah SWT berkehendak lain atas perkaranya maka hal tersebut sangatlah mudah. Disebabkan faktor tamak dan serakah risywah merajalela di masyarakat kita.
  • Malas berusaha. Orang yang melakukan risywah ingin segala masalahnya tuntas secepat kilat apapun jalannya. Norma-norma hukum tidak lagi diindahkan untuk mencapai tujuannya. Banyak orang berfikir yang penting urusan selesai tanpa ditinjau dengan cara Islami atau tidakkah penyelesaian tersebut. Seharusnya seorang muslim berusaha kemudian baru hasilnya kita bertawakkal terhadap Allah SWT.
  • Hilangnya sifat jujur dan amanat pada diri seseorang. Banyaknya kasus suapmenyuap pada masyarakat salah satunya disebabkan karena hilangnya sifat jujur dan amanat pada diri seseorang. Jujur dan amanat dua sifat yang hari ini luntur pada para pejabat maupun pelayanan masyarakat. Demi ambisi pribadi seseorang yang berbuat risywah rela menelanjangi sifat jujur dan amanat pada dirinya.
  • Tipisnya kepedulian social terhadap sesama Muslim. Orang yang berbuat risywah tidak sadar bahwa dirinya merugikan orang lain yang lebih berhak darinya. Orang yang berbuat risywah rela mengambil kemenangan dengan kedzaliman. Padahal, sesame muslim adalah saudara. Haram baginya kehormatan dan hakhaknya tanpa jalan yang benar.
  • Lemahnya penegakan hukum di Masyakat. Lemahnya penegakkan hukum dimasyarakat menjadikan tradisi risywah mengakar kuat. Hukum dinegeri ini terlihat terlalu elastikkarena bisa diplintir dan disetir oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Bahkan, keadilan hukum hilang karena mulut penegakhukumbanyak yang disumpal dengan uang suap untuk pemandulan penegakan hukum. Jadi, tanpa adanya hukum yang kuat budaya risywah akan senatiasa merambah dan bertambah.

 

Syarat-Syarat Dibolehkannya Risywah

Hukum asal dari risywah adalah haram. Di dalam kondisi tertentu risywah dibolehkan namun dengan syarat sebagai berikut,

  • Darurat, Kondisi darurat yang dimaksud dalam poin ini mempunyai dua pengertian secara khusus dan umum. Darurat dalam pengertian khusus merupakan suatu kepentingan esensial yang jika tidak dipenuhi, dapat menyebabkan kesulitan yang dahsyat yangmembuat kematian. Darurat dalam pengertian umum, lebih luas merujuk pada suatu hal yang esensial untuk melindungi dan menjaga tujuan-tujuan dasar syariah. Dalam bahasa Imam Syatibi sesuatu itu disebut esensial karena tanpanya, komunitas masyarakat akan disulitkan oleh kekacauan, dan dalam ketiadaan beberapa diantara mereka, manusia akan kehilangan keseimbangannya serta akan dirampas kebahagiaannya di dunia ini dan kejayaannya di akherat nanti. Jadi, dapat diamati bahwa perhatian utama dari definisi darurat menurut Imam Syatibi adalah untuk melindungi tujuan dasar syaria, yaitu menjaga agama,nyawa, keturunan, akal, kesehatan, menjaga dan melindungi kemulian serta kehormatan diri.
  • Untuk mengambil kewajiban dan hak yang hilang saat dizhalimi.
  • Tidak berlebihan dan menjadi kebiasaan.
  • Untuk mendapatkan maslahah rajihah (manfaat yang riil) bukan dzoniyyah (perkiraan). Tidak menghalalkan hal tersebut, namun mengingkarinya dan senatiasa beristighfar dan berdoa kepada Allah karena pada dasarnya cara itu haram.

 

Dampak Negatif Risywah

Secara umum kejahatan risywah berdampak pada 3 sektor penting dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Bagi individu
  • Risywah menghancurkan dan menyia-nyiakan potensi besar individu masyarakat dalam memberikan karya terbaik. Karena dengan risywah orang yang tidak berkompeten dan bukan ahlinya bisa duduk menjadi pejabat atau atasan.
  • Menurunkan etos kerja dan kualitas.
  1. Bagi masyarakat
  • Risywah merusak akhlak masyarakat, menciptakan kehidupanan social yang tidak harmonis.
  • Risywah menghalangi dana orang sholih kepada yang lebih berhak.
  1. Bagi negara
  • Merusak tatanan hukum yang telah ada.
  • Mengacaukan sistem administrasi yang semula berjalan melalui SOP.
  • Risywah merupakan pintu gerbang para investor yang tidak bertanggung jawab untuk mengeruk devisa negara demi kepentingan pribadi atau kelompok

 

 

 

Solusi Risywah

Tidak dipungkiri risywah memang penyakit mentalitas rendahan yang telah menjamur di tengah masyarakat. Oleh karena itu,Islam sejak dulu telah melarang praktik-praktik risywah dalam kehidupan.

Karena hal tersebut sangat berbahaya oleh karena itu wajib di cari solusi untuk memberantasnya. Tentunya solusi tersebut didasarkan pada konsep bahwa penjagaan lebih baik dari pada pengobatan (al wiqayatu khairun minal „ilaj). Diantara solusi yang bisa ditempuh dalam rangka meminimalisir risywah adalah sebagai berikut:

1. Penjagaan

Memulai dari diri sendiri. Sebelum melakukanperubahan, hal pertama yang harus dirubah adalah diri kita sendiri yaitu dengan menegakkan nilai-nilai Islami dalam setiap pribadi muslim. Jika nilai Islami telah menancap pada pribadi muslim maka dengan mudah praktek risywah bisa di minimalisir dalam kehidupan.

Memberikan penyuluhan pada masyarakat akan bahaya risywah. Masyarakat harus senantiasa dibina dan disadarkan bahwa praktek risywah adalah suatu tindakan yang merugikan banyak pihak. Selain merupakan bentuk kedzaliman,ia juga merupakan cermin moralitas yang rusak dan kotor. Salah satu wahana dan media yang tepat untuk penyuluhan masyarakat adalah dengan mengoptimalkan berbagai media dan komunitas sosial masyarakat.

Memberi suri teladan yang baik terutama bagi para pemimpin karena kepemimpinan akan dipertanggungjawabkan di dunia maupun di akhirat. Praktik risywah yang tercium oleh KPK adalah sebagian kecil yang muncul di permukaan pejabat pemerintahan. Praktik suap menyuap dikalangan pejabat yang dipandang sebagai pemimpin rakyat akan memberikan stimulasi praktik risywah di tataran bawahan. Oleh karena itu, hendaknya para pemimpin benar-benar memberikan suri teladan yang baik.

2. Pengobatan

  • Penegakkan hukum, tanpa penegakan hukum praktik risywah tidak akan bisa di hilangkan. Jadi, dalam hal ini pemerintah harus benar-benar konsekuen dengan gerakan disiplin nasional terutama disiplin dalam administrasi. Terlalu banyak kita dapati layanan masyarakat yang seharusnya gratis menjadi sulit dan berbelit-belit karena budaya risywah serta tidak ada kedisiplinan penegakan hukum yang jelas.
  • PHK
  • Dipublikasikan kepada khalayak tentang kejahatannya.
  • Diserahkan pada yang berwajib untuk diadili dan dihukum dengan setimpal.
  • Pembekuan aset pribadi atau perusahaan yang terkait.
  • Dipindahkerjakan di tempat lain bagi oknum yang bersangkutan.

 

Daftar Pustaka

Prof. Dr. Katimin, M.Ag., Dr. Asrar Mabrur Faza, S.Th.I., M.A. Fadhilah IS, Lc., M.Th., Hadis-Hadis Politik (Medan, Perdana Publishing, 2018)

Abdul Muhsin, Abdullah Ibn, Suap dalam Pandangan Islam, judul asli: Jarimah al-Risywah fiy Syari’ah al-Islâmiya, penerjemah: Muchotob Hamzah dan Subakir Saerozi, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001)

CD al-Hadits al-Syarîf

Dahlan, Abdul Aziz, Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1998 Jilid V

Ibn Hajar al-Asqlâniy, Ahmad Ibn ‘Aliy Ibn, Fath al-Bâriy Syarh Shahîh al-Bukhâriy, Bairût Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2000, Jilid V

Ibn Zakariâ, Abu al-Hasan Ahmad Ibn Fâris, Mu’jam al-Maqâyîs fiy al-Lughah,Bairût: Dâr al-Fikr, 1994

al- Qardhawiy, Yusuf, Halal Haram dalam Islam, judul asli: al-Halal wa al-Haram fiy al-Islâm, penerjemah: Wahid Ahmadi dkk, (Surakarta: Intermedia, 2005)

Kutub Tis’at Sofware

https://www.academia.edu/8758315/BAB_IV_PENGERTIAN_HADITS

 

[1] Ibn Zakaria, Abu al-Hasan Ahmad Ibn Faris, Mu’jam al-Maqayis fiy al-Lughah (Bairut: Dar al-Fikr, 1994), hal. 1053.

[2] Sumber: Tirmidzi | Kitab: Hukum-hukum Bab: Hadiah untuk penguasa, pejabat

[3] Sumber: Tirmidzi | Kitab: Ekspedisi Bab: Menerima hadiah orang musyrik

 

[4] Sumber: Bukhari | Kitab: Hibah, keutamaannya dan anjuran melakukannya Bab: Menerima hadiah

 

[5] Sumber: Bukhari| Kitab: Hibah, keutamaannya dan anjuran melakukannya Bab: Menerima hadiah

[6] Sumber: Malik | Kitab: Thalak Bab: Khiyar

 

[7] Ibn Hajar al-Asqlaniy, Ahmad Ibn ‘Aliy Ibn, Fath al-Bariy Syarh Shahih al-Bukhariy, (Bairut Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2000, Jilid V), hal. 275.

 

[8] Ibn Hajar al-Asqlaniy, Ahmad Ibn ‘Aliy Ibn, Fath al-Bariy Syarh Shahih al-Bukhariy, (Bairut Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2000, Jilid V), hal. 276.

[9] (Abu Dawud, tth: III, 154)

 

[10] Abdul Muhsin, Abdullah Ibn, Suap dalam Pandangan Islam, judul asli: Jarimah al-Risywah fiy Syari’ah al-Islamiya, penerjemah: Muchotob Hamzah dan Subakir Saerozi, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hal. 35.

[11] (Al-Nasa’iy, 1993: VII, 315).

 

Add Comment

Your email is safe with us.

%d blogger menyukai ini: